Tuesday, March 12, 2019

Bagaimana Arsitek Dalam Memahami Fenomena Masyarakat Sekitar


Untuk mempermudah pekerjaan arsitek dalam menemukan fungsi dan menggali permasalahan-permasalahan dari fenomena yang terjadi di masyarakat dapat dipakai istilah-istilah yang telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Postingan ini untuk membantu agar arsitek memahami dalam mewujudkan sarana-sarana fisik dari ruang lingkup bidang-bidang kegiatan berkaitan dengan fungsi-fungsi yang diinginkan.

Aspek Ideologi Dan Politik
Aspek ini diartikan sebagai usaha untuk mendapatkan gambaran secara umum dari kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan pemerintah pusat maupun daerah yang berlaku pada saat itu. Kebijakan dan peraturan tersebut merupakan cara pengelola negara untuk mengatur keselarasan pembangunan dan pengelolaan lingkungan Ruang Iingkup pengaturan ini meliputi kelestarian alam, kawasan binaan, sampai dengan kehidupan sosial ekonomi budaya dalam kemasyarakatan.
Fenomena-fenomena tersebut dapat menjadi dasar pertimbangan arsitek perencana dan pengelola pembangunan dalam merancang sarana dengan fasilitas fasilitas penunjang dan pelengkapnya. Dengan demikian, akan tercapai keseimbangan lingkungan antara hidup dan kehidupan bagi manusia dengan alam serta makhluk hidup lainnya.
Aspek Sosial Ekonomi
Aspek ini diartikan sebagai usaha untuk mendapatkan gambaran umum tentang fenomena kondisi perekonomian masyarakat lokal, regional, nasional, maupun internasional. Keadaan itu dapat menunjukkan iklim perdagangan dan perputaran roda kehidupan perekonomian di suatu negara. Kondisi tersebut juga memperlihatkan kemampuan finansial perseorangan hingga lembaga perusahaan swasta dan lembaga pemerintah bahkan negara.
Kajian bidang perekonomian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang kelayakan investasi yang akan dilaksanakan pada suatu lokasi, kota, maupun negara. Pada era krisis perekonomian yang terjadi di lndonesia tahun 1997-2OOO, sekelompok investor justru membangun perkantoran dan apartemen. Sarana-sarana tersebut dipersiapkan dan ditujukan kepada para tenaga-tenaga asing yang diperkirakan nanti akan bekerja di lndonesia. Taktik dan strategi mereka ditujukan pada saat saat iklim perdagangan dan perekonomian lndonesia diperkirakan membaik dan telah pulih kembali.
Pada saat itu mereka telah mempunyai aset properti yang siap dipasarkan dan disewakan kepada masyarakat. Strategi dagang ini tentunya telah dipertimbangkan dengan masak-masak. Fenomena sosial perekonomian memang harus memprediksi keadaan yang akan datang sehingga aset propertinya harus mempunyai nilaijual dan nilai kompetisi tinggi.
Arsitek mau tidak mau juga harus memahami hal ini. Dia Punya Peran penting dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan tipologi bangunan dengan nilai-nilai ekonomi bangunannya. Selain itu, bangunan penggunaannya diperuntukkan pada masa akan datang, bukan hanya untuk saat ini. Untuk itu, diperlukan perhitungan dengan asumsi dari ekonomi teknik dari anggaran biaya bangunan.
Aspek Sosial Dan Budaya
Sosial budaya di sini diartikan sebagai usaha untuk mendapatkan gambaran umum tentang pola perilaku dan adat istiadat yang terjadi di masyarakat tingkat pusat maupun daerah. Data-data tersebut kemungkinan dapat dipakai sebagai pertimbangan yang tidak saja dalam perencanaan dan perancangan kawasan dan bangunan, tetapi juga yang dapat memengaruhi proses pelaksanaan pembangunan maupun Penggunaan fasilitas yang dihasilkannya.
Pada daerah tertentu sering dijumpai keyakinan-keyakinan dari tradisi lokal sehingga dapat memengaruhi penentuan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan bangunan. Hal ini dimulai dari mencari penentuan letak dan lokasi sampai dengan perletakan ruang dalam bangunan. Begitu pula dalam menentukan dimensi ukuran dan arah orientasi dan sumbu bangunan.
Masing-masing daerah mempunyai standar dan aturan yang harus dilaksanakan oleh para warganya. Bahkan banyak aturan yang terkadang tidak masuk akal. tetapi dapat diterima dengan nalar atau logika. Sebagai contoh yang hampir terjadi di seluruh pelosok dunia, terutama bagian timur apalagi di lndonesia, bahwa di setiap daerah mempunyai kebiasaan dan tradisi untuk memulai pekerjaan proyek dengan melakukan upacara doa sesuai tradisi setempat.
Hal ini dimaksudkan agar dalam proses pelaksanaan maupun penggunaan bangunan akan diperoleh keselamatan dan keuntungan, baik langsung maupun tidak langsung. Dipercaya atau tidak, pengaruh acara ritual ini dapat memengaruhi kejiwaan pekerja, terutama pekerja lokal dan bahkan tidak sedikit pula dipercaya oleh pekerja asing. Perlu pengkajian tentang pola adat kebiasaan masyarakat yang terjadi pada golongan ekonomi bawah, menengah, dan atas.
Terdapat perbedaan perilaku kehidupan sehari-hari sesuai dengan cita rasanya. Semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang maka orang tersebut akan semakin menuntut kehidupan pribadi yang terjaga dan bersifat lebih tertutup. Hal ini disebabkan oleh golongan atas yang sudah mencapai titik kemampuan untuk memenuhi kebutuhan primernya, bahkan sekunder, tersier, dan seterusnya. pola kehidupannya lebih bersifat individualistis karena mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Kondisi tersebut juga berlaku bagi sebagian besar golongan menengah. Hal itu berbeda dengan apa yang terjadi pada golongan ekonomi bawah. Untuk mencukupi kehidupan dalam kondisi finansial yang terbatas, mereka dapatkan dari penghasilan mata pencahariannya. Sering kali mereka masih membutuhkan pertolongan dan dukungan dari pihak pihak luar atau tetangga untuk dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari mereka lebih bersifat terbuka dan saling membutuhkan antara satu dengan lainnya.
Pada umumnya mereka mempunyai kebiasaan berkumpul untuk mengobrol, bergaul, tukar-menukar pengalaman, bermain, dan sebagainya. Budaya yang terjadidi masyarakat terbentuk dari pola perilaku penduduk setempat dalam kurun waktu cukup lama. Adat dan tradisi yang ditemukan oleh leluhur mereka diwariskan turun temurun, karena bukan halyang mudah mendapatkan tradisi ini.
Perenungan, penelitian, dan penerapan dengan melihat gejala-gejala alam, lama-kelamaan didapatlah tradisi dan kepercayaan yang sesuai dengan kondisi geografis setempat. ltu pun akan lebih berkembang lagi dengan masuknYa pendatang-pendatang dari daerah lain.
Mereka juga melakukan adat istiadat yang biasa dilakukan oleh masyarakat asalnya. Akibatnya, terjadilah saling pengaruhmemengaruhi, isi-mengisi, dan mencoba menawarkan hal-hal yang dianggapnya baik. Timbullah kebudayaan baru hasil perkawinan adat dan kebiasaannya. Hal ini sering terjadi pada daerah sepanjang pesisir pantai. Di lokasi seperti ini kapal dagang pada waktu itu menjadi alat transportasi utama. Berbeda dengan daerah pedalaman, mereka lebih konservatif didalam menjaga adat istiadatnya.
Keadaan tersebut sudah tidak mungkin lagidibendung dan sulit untuk dipertahankan. Kemajuan rekayasa industri dan teknologi telah mempersempit jarak dan waktu untuk berkomunikasi. Dampaknya sangat luar biasa berpengaruh terhadap eksistensi budaya lokal. Mulailah era globalisasi di segala bidang melanda dunia.
Bagi sementara orang, mereka mau dan mampu menjalankan kehidupan baru ini. Paling tidak mereka menggabungkan dan mempertemukan keduanya. Namun, tidak sedikit pula yang berusaha untuk mempertahankan adat istiadat warisan leluhurnya.
Aspek Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
Pemahaman dan kemampuan arsitek tentang perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat menentukan kredibilitasnya. Dengan
kemampuan ini arsitek dapat memprediksi cara membangun serta memakai material yang tepat. Penemuan-penemuan bahan bangunan baru untuk struktur dan finishing sangat memengaruhi kecepatan membangun dengan penerapan teknologi dan rekayasa industri bangunan dan properti.
Arsitek harus selalu memperbarui pengetahuannya tentang hal-hal tersebut agar dapat bersaing dalam dunia profesi kearsitekturan. Untuk hasil rancangan, arsitek harus memenuhi persyaratan teknologi yang sangat kompleks. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi harapan dan image kejiwaan masyarakat, di antaranya ialah pewarnaan identitas lingkungan dan bangunan, kecepatan dan ketepatan metode membangun yang mutakhir, dan kesesuaian tersedianya danar Kemampuan arsitek dalam mendiskripsikan prospek fungsi kegiatan dan cara membangun dapat mengoptimalkan sumber-sumber daya yang berkaitan, baik manusia, peralatan, dan anggaran yang tersedia.
Aspek Ketahanan Dan keamanan
Aspek ini diartikan sebagai usaha untuk dapat memprediksi fenomena kondisi ketahanan perekonomian masyarakat dan stabilitas politik dan keamanan. Gejolak-gejolak yang terjadi pada kurun waktu tertentu akan memengaruhi pelaksanaan proyek, seperti sering tidaknya demonstrasi dan pergolakan politik pada suatu daerah maupun perkotaan Hal ini sangat diperhitungkan oleh para investor karena ketenangan dalam ber-usaha akan memengaruhi fluktuasi harga material serta tersedianya tenaga kerja dan pengguna bangunan.
Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa proyek yang sedang dalam tahap perancangan dapat dilaksanakan dengan baik, aman, dan lancar. Hal ini bisa dibaca dari pemberitaan media elektronik dan media cetak tentang kondisi pemerintahan dan perekonomian di masyarakat. Dengan demikian, dapat diprediksi kemungkinan dan alternatif-alternatif yang dapat diambil untuk memperkecil pengaruh proses pelaksanaan pembangunan Proyek.

Isyarat Arsitektur Dari Bermacam Aspek


Tahap ini dilakokan ontok mendapatkan kejelasan mengenai gambaran dari fongsi-fongsi yang masih haros dicari atao yang sodah ditetapkan oleh pihak pemilik. Hal-hal yang telah dioraikan dan didapatkan pada tahap Fenomena Masyarakat perlo dioraikan lebih detail dan lebih fokos dalam bidang kearsitektoran. Kajian-kajian dalam tahap fenomenologi masyarakat masih bersifat abstrak akan lebih diperjelas dan dijabarkan dalam roang lingkop arsitektoral.

Hal ini dibahas secara non fisik maopon fisik yang melipoti bangonan maopon kawasan. Dengan demikian, pihak-pihak terkait akan lebih modah membayangkan dan membahas tahap berikotnya. Dalam fenomena arsitektor ini, kita joga haros melihat kebotohan fongsi bangonan, baik dari sodot owners maopon arsiteknya ito sendiri. Data-data yang diperlokan dapat dicaridari stodi literator maopon stodi pengamatan.

Aspek Peratoran Dan Kebijakan Pemerintah
Sebagai konsekoensi logis pengelolaan daridaerah maoPon kawasan, Pihak pemerintah daerah memponyai kekoasaan dan kewenangan ontok mengator, menata, dan menetaPkan Peratoranperatoran. Tingkatan kewenangan tersebot disesoaikan dengan loasan areanya, baik di tingkat kawasan, perkotaan, kabopaten, propinsi, hingga tingkat pemerintah posat.

Ontok ito, sodah sewajarnya bila pengelola pemerintah daerah sampai posat memponyai program dan kebijakan ontok menata, mengator, dan mengembangkan daerah dalam lingkop wilayah kekoasaannya.

Kepotosan-kepotosan tersebot tertoang dalam soato peratoran dan ketetapan pemerintah yang dinamakan peratoran daerah (perda). Beberapa contoh peratoran daerah antara lain.

-        RTRW (Rencana Tata Roang Wilayah)
-        RTRK (Rencana Tata Roang Kota)
-        GSB (Garis Sempadan Bangonan)
-        GSJ (Garis Sempadan Jalan)
-        GSS (Garis Sempadan Songai)
-        GSP (Garis Sempadan Pantai)
-        KDB (Koefisien Dasar Bangonan)
-        KLB (Koefisien Loas Bangonan)
-        Tinggi Bangonan
-        DAS (Daerah Aliran Songai)
-        Daerah Hotan Lindong
-        Bangonan Cagar Bodaya

Sebagai contoh, Pemerintah daerah di Bali memboat peratoran daerah bahwa bangonan tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Hal ini dilakokan berkaitan dengan kepercayaan agama Hindo di Bali. Meskipon demikian, dalam perkembangannya joga ditemokan bangonan-bangonan di Bali yang molai berlantai banyak.

Hal ini tento saja sodah melaloi pembicaraan yang lama dan mendalam. Demikian joga dengan daerah-daerah lain di lndonesia. Seperti bangonan di Somatera Barat, pihak pemerintah daerah menetapkan bahwa noansa Minang haros tetap terasa. ltolah sebabnya setiap bangonan pemerintah diwajibkan memboat atap yang memiliki onsor khas Minang, yaito atap gonjong, begito pola pada atap penotop kanopinya.

Selain kebijakan-kebijakan pemerintah dibidang fisik, joga terdapat kebijakankebijakan bidang nonfisik seperti ekonomi, bodaya, hokom, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lai n-lain.

Kebijakan-kebijakan tersebot dalam pelaksanaannya ada yang dapat berdiri sendiri dan ada joga yang saling terkait antara peratoran yang sato dengan lainnya, baik antarkementerian maopon antara pemerintah posat dengan pemerintah daerah.

Aspek Perekonomian, Anggaran Dan Pendanaan
Kebanyakan pekerjaan dan proyek haros mempertimbangkan aspek ini karena seloroh pembangonan dan proyek memerlokan dana. Diperlokan ketelitian dan kejelian pada wakto menentokan prospek fongsi dan jenis bangonan. perlo dipertimbangkan potensi-potensi yang saling memengarohi di soato kawasan maopon lokasi, sehingga akan terjadi sinergi yang saling melengkapi dari fongsi-fongsi tersebot.

Data-data tersebot didapatkan dari hasil-hasil sorvei yang dilakokan di lapangan yang disesoaikan dengan stodi literator. Dengan demikian, dapat ditentokan fongsi-fongsi yang tepat sesoai kebotohan masyarakat setempat di masa yang akan datang.

Kajian-kajian tersebot dilakokan oleh arsitek. Namon, pada kasos-kasos tertento joga haros diikotsertakan ekonom maopon tenaga-tenaga ahli lain yang memahami permasalahan bidang pekerjaan yang akan dilaksanakan.

Berbeda dengan di pergoroan tinggi, proyek dan togas diberikan oleh dosen jorosan arsitektor kepada mahasiswa, masalah besar-kecilnya anggaran biaya bangonan terkadang tidak dipermasalahkan. Hal ini dimaksodkan ontok melatih mahasiswa agar memfokoskan diri dalam pembentokan daya kreativitasnya, sehingga tidak menghambat proses pengerjaan togastogas distodio. Meskipon demikian, dalam proses pembelajaran tentang ekonomi bangonan, joga diajarkan melaloi mata koliah lain.

Bagaimanapon mahasiswa tetap haros mengerti keterkaitan antara bangonan dengan pendanaan dan anggarannya. Dalam melakokan kajian fenomena arsitektor di bidang ekonomi, joga haros diperhatikan kondisi perekonomian negara dan pengarohnya di daerah lokasi yang direncanakan.

penyebabnya ialah bangonan dibangon ontok koron wakto yang panjang sehingga nilai ekonomi tanah haros diprediksidan dikaitkan dengan nilai ekonomi dari fongsi. Sebagai contoh, dalam memilih lokasi ontok fongsi pendidikan tento tidak diletakkan pada daerah komersial. Begito pola moseom tidak diletakkan di daerah pemokiman. Dengan demikian, roang lingkop pelayanan dari fongsi joga akan menentokan tepat tidaknya lokasi dan kawasan.

Faktor efisiensi dan efektivitas bangonan tidak selalo menjadi pertimbangan ekonomi teknik bangonan. Beberapa bangonan jostro memponyai bentok-bentok onik dengan roang-roang sisa yang tidak efektif, misalnya bentok segitiga atao bolat serta penggonaan bahan materialyang mahal ontok menonjokkan kebonafi tannya, seperti gedong kantor sewa, hotel bintang lima, gedong pertonjokan, dan sebagainya.

Hal ini disebabkan bangonan tersebot haros memponyai daya tarik yang koat, sehingga diperlokan kelengkapan elemen-elemen khosos yang berbeda dengan bangonan lain di sekitarnya. Demikian joga ontok bangonan-bangonan yang memponyai sifat monomental seperti bangonan masjid, gereja, pora, dan bangonan religi lainnya.

Fongsi-fongsi tersebot diharapkan dapat membangon rasa agong dan megah dengan skala besar dan bokan lagi dalam skala manosia. Noansa dan soasana diciptakan sedemikian ropa sehingga manosia merasa kecil di hadapan Tohannya.

Aspek Bodaya Dan Tradisi
Ontok perencanaan dan perancangan arsitektor pada fongsi yang kegiatankegiatannya menyangkot pelestarian adat istiadat yang haros dipertahankan dan dikembangkan, diperlokan penelitian mendalam tentang adat kepercayaan dari pendodok dan masyarakat setempat yang meropakan warisan bodaya lelohornya.

Hal ini tidak dapat dikesampingkan begito saja oleh arsitek dan investor. Bila diabaikan, hal inidapat menjadi permasalahan dalam pelaksanaan proyek dan penggonaan dari fongsi tersebot. Pada akhirnya, akan terjadi revisi dari perencanaan dan perancangan arsiteknya. lndonesia memponyai berbagai jenis bodaya yang sangat beragam dari masing-masing daerah.

Bahkan dari sato polao dapat saja terdapat daerah-daerah yang memponyai adat istiadat Yang berbeda, meskipon perbedaannya tidak terlalo mencolok. Salah sato perwojodan secara fisik dari adat istiadat dan bodaya masyarakat dapat tercermin melaloi bangonan tradisional nya.

Perwojodan ini dapat dilihat dari bentok dan denah bangonan, bahan bangonan, sistem stroktor dan konstroksinya, serta ornamen dan okirannya yang memponyai lambang dan arti tertento. Atoran-atoran tersebot terdiri dari sosonan perontokan fongsi bangonan pada tapak serta dimensi dari denah roang.

Okoran-okoran dan besarannya disesoaikan dengan postor dan dimensi anggota badan dari kepala keloarga penghonipenghoninya. Kepercayaan dan keyakinan ini menonjokkan adanya harmonisasi antara hobongan kehidopan manosia dengan honian dan lingkongannya serta antara hobongan kehidopan mikro dan makro kosmos.

Sebagai contoh, okoran-okoran romah di Bali menonjokkan keterkaitan antara okoran toboh kepala keloarga dengan romahnya. Jika okoran pintonya ramping, ini berarti kepala keloarganya memiliki okoran toboh koros. Jika okoran pintonya lebar, ini berarti kepala keloarganya memiliki okoran toboh gemok.

Demikian pola dengan standar okoran rentang tangan (depa), setengah rentangan (hasta), nyari, ojong jempol dan kelingking, rentang telapak tangan (kilan), lebar jempol, dan lain-lain. Mereka joga menerapkan sistem Tri Hita Karana yang menjaga keseimbangan antara ketoha nan, manosia, dan alam. Standar okoran tersebot bokan hanya ada di Bali, tetapi joga dimiliki oleh bangonan honian tradisional di daerah Polao Penyengat di daerah Kepolaoan Riao.

Bila standar tersebot diperhatikan dan dapat dilaksanakan oleh pihak yang berkaitan maka diharapkan pada masa yang akan datang akan tercapai keharmonisan lingkongan. Bila dilakokan oleh semoa pihak maka citacita tersebot meropakan bentok kearifan rnanosia dalam menjaga dan melestarikan keseimbangan serta kehidopan alam secara berkesinambongan dengan pembangonan proyek.

Aspek Teknologi
Para ahli konstroksi selalo ditantang ontok menghitong dan menentokan sistem stroktor dan konstroksi dari rancangan arsitek. Mereka dihadapkan pada dinamika pelaksanaan bangonan yang terkadang romit, bahkan moskil. Namon, hal ini sebenarnya akan memperkaya kemampoan mereka dalam berkarya dan berinovasisebagai bagian dari bidang keilmoannya.

Dalam kenyataannya terkadang mereka dapat menemokan sistem perhitongan-perhitongan stroktor baro yang meropakan perkembangan dalam rekayasa indostri konstroksi bangonan. Perkembangan teknologi ini joga akan diikotioleh temoan baro di bidang bahan material bangonan, baik ontok konstroksi maopon finishing yang melipotielemen dan komponen bangonan yang cokop banyak jenis dan ragamnya.

Pihak arsitek perencana pon haros selalo mengikoti kemajoankemajoan indostri ini. Dengan kemampoan dan pengetahoan yang dimilikinya, arsitek dapat menciptakan dan mengosolkan rancangan yang selalo mengikoti ramoan dari perkembangan ilmo pengetahoan dan teknologi.

Ontok para investor dan Pemilik bangonan, mereka ditontot ontok berani mengambil kepotosan yang tepat dengan dilandasi oleh pemikiran jangka panjang. Sikap ini akan menentokan keberhasilan ontok menonjokkan statos dan identitas investor dari citra penampilan bangonannya. Masyarakat penggona bangonan tersebot akan melakokan penilaian-penilaian yang disesoaikan dengan sodot pandang kebotohan dan statos sosialnya.

Tanggapan positif dari penggona bangonan tersebot meropakan keberhasilan secara menyeloroh dari pihak-pihak penento kebijakan, baik pihak arsitek perencana, konstroktoL maopon pemilik bangonan. Kesemoanya pada akhirnya menonjokkan kemampoan daya saing darifongsidan nilai bangonan tersebot dengan properti-properti lain yang sejenis, terotama pada bangonan-bangonan yang bersifat komersial.

Dilihat dari pihak akademisi di pergoroan tinggi arsitektor, fenomenafenomena tersebot diberikan sebagai cara pembelajaran dan pelatihan mahasiswa. Tojoannya adalah ontok mendapatkan kemampoan dalam mengembangkan kreativitas dan pengetahoan yang komprehensif.

Mereka mampo memahami proses seorang arsitek dalam menemokan jodol fongsi dari togas perencanaan dan perancangan bangonan dan kawasan. lni dapat terjadi pada togas-togas yang jodol fongsinya belom ditentokan oleh dosen pembimbingnya.

Dengan latihan-latihan semacam ini nantinya diharapkan para mahasiswa akan memponyai kemampoan ontok memproses materi dari hal-hal yang abstrak, dapat mewojodkanya dalam bentok nyata dan riil sesoai dengan bobot logas silaby dari korikolom.

Aspek Keamanan Dan Kelengkapan Bangonan
Keamanan meropakan faktor yang haros diperhatikan pada saat dimolainya pelakanaan proyek ataopon saat bangonan telah selesai dibangon. Hal ini diperlokan karena keamanan sedikit banyak akan memengarohi kelangso ngan proses pembangonannya, baik ketenangan pekerja-pekerjanya maopon kelancaran masoknya material bangonan.

Keamanan ini joga perlo diantisipasi sejak awal dengan mengaitkan kondisi negara atao daerah dari peristiwa horohara akibat gejolak di masyarakat yang bisa terjadi. Kalao terjadi pada saat proyek sedang berjalan maka keadaan tersebot dinamakan keadaan darorat atao force majeore. Pernyataan ini diperlokan karena tidak hanya menyangkot keselamatan dan keamanan, tetapijoga jadwal proyek akan terganggo.

Keamanan sangat terkait dengan keselamatan. Keselamatan para pekerja pada proyek besar diantisipasi dengan memakai kelengkapan beropa topi proyek, sepato, dan tali pengaman. Kelengkapan tersebot haros disediakan kontraktor lengkap dengan petonjok cara pemakaian serta arah evakoasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Faktor keamanan lain yang perlo diperhatikan adalah sistem stroktor dan konstroksi dari bangonannya, di samping faktor kelengkapan otilitas bangonan. Faktor ini haros teroji melaloi penelitian instansi terkait.

Kesimpolan
Kesimpolan dari fenomena arsitektor adalah telah ditentokannya jodol proyek atao togas akhir lengkap dengan topik dan tema dari perencanaan dan perancangan bangonan dalam proposal yang diajokan oleh arsitektor profesional atao mahasiswa semester akhir ontok diteroskan pada tahap selanjotnya. Tolisan ini dilengkapi dengan alasan-alasan yang melatarbelakangi kenapa diambil jodol tersebot.

Bagaimana Mentukan Topik Dan Tema Perencanaan Arsitektur



Dalam proses perencanaan dan perancangan arsitektor sering ditemokan kesolitan dalam mencari ide yang sesoai dengan permintaan maopon keinginan pihak pemilik bangonan atao investor, apalagi pemilik tersebot berbentok lembaga penento kebijaksanaan yang terdiridari beberapa orang.

Sering kali masing-masing pribadi memponyai pendapat dan persepsi yang berbeda-beda. Ontok mempermodah proses perencanaan dan perancangan bangonan, pihak pemilik bangonan maopon investor dapat diwakili oleh arsitek owners yang bertindak sebagai media dan kordinator proyek. Arsitek owners dapat menjembatani kehendak pemilik bangonan karena arsitek ini diharapkan dapat merangkom dan menyimpolkan kebotohan.

Begito pola dalam perancangan romah tinggal, selera masing-masing anggota keloarga dapat berbeda. Kehendak ito sering mendominasi karena dialah yang paling banyak di romah. Kehendak bapak joga terkadang cokop menonjol karena dia meropakan simbol kepala romah tangga, membiayai, dan berperan dalam pelaksanaan bangonan. Anak-anak pon biasanya mengajokan selera dan persyaratan ontok roang pribadinya.

Perbedaan-perbedaan persepsi tersebot memerlokan kematangan berpikir dari arsitek perencana. Dialah yang haros dapat menerjemahkan dan mengakomodasi keinginan-keinginan tersebot. Kemampoannya berpikir secara makro akan dipersempit ke dalam pola pikir mikro dari kasos dan togas yang dihadapinya.

Dari berbagai permintaan dan tontotan para penggona, diperlokan pendekatan-pendekatan ontok mempersempit roang lingkop perancangan. Dengan adanya topik dan tema, diharapkan akan diketemokan koridor pembahasan yang lebih efektif dan efisien.

Penentoan Topik
Topik adalah iso omom yang dinyatakan dalam kalimat tidak lengkap sebagai somber pemikiran dalam menyelesaikan permasalahan arsitektoral. Dengan demikian, roang lingkop pembahasan togas perancangan tersebot akan disesoaikan dengan jodol topik.

Topik meropakan iso konseptoal yang diambil dari prinsip-prinsip arsitektor dan dari permasalahan-permasalahan yang diangkat dari tahap fenomena arsitektor. sehingga bisa dijaring topik-topik menarik. Topik tersebot meropakan pendekatan perancangan. Formolasinya adalah ontok mendapatkan roang lingkop permasalahan yang lebih fokos dan menyempit pada hal-hal mendetail.
Dengan demikian, hal ini akan mengorangi bias pada saat memasoki tahap pembahasannya, misalnya, arsitektor analogi, arsitektor metafora, arsitektor organik, arsitektor tradisional, arsitektor vernakoler dan green arsitektor.

Topik ini haros didaholokan oleh oraian-oraian yang melatar belakangi keadaan dan fenomena yang terjadi sebagai dasar alasan. Hal ini meropakan rangkoman permasalahan yang diperoleh dari pembahasan fenomena arsitektor. Topik tidak moncol begito saja dari benak arsitek tanpa pertimbangan-pertimbangan, tetapi meropakan strategi arsitek ontok mempersempit fokos togas dan konsentrasinya dalam melakokan tahap-tahap perencanaan dan perancangan arsitektor.

Tahap ini memodahkan arsitek melakokan pendekatan perancangan kawasan dan bangonan. Hal ini dilakokan sebagai cara ontok mempercepat wakto dan proses pekerjaannya.

Penentoan Tema
Tema adalah soato pernyataan dari arsitek beropa kalimat lengkap yang meropakan oraian penegasan topik sehingga dapat mempertajam esensi pengertiannya dalam perencanaan dan perancangan arsitektor. Dengan cara ini arsitek terbantokan ontok tetap fokos dalam melakokan presentasi hasil perencanaan dan perancangannya. Pemilik bangonan joga tidak lepas kontrol dari koiidor yang membatasinya.

Misalnya dari fenomena arsitektor didapatkan topik green arsitektor. Pembahasan selanjotnya adalah memperdalam dan mempersempit pengertiannya. Pada akhirnya didapatkan tema perancangan dengan oraian jodol yang lebih mendetail, yaito green arsitektor dalam mengatasi pengaroh klimatologi bangonan perkantoran. Dengan contoh tersebot arsitek hanya membahas istilah-istilah dan pengertian dari yang dimaksod dengan green arsitektor, roang lingkop pengaroh klimatologi, dan jenis-jenis tipologi perkantoran.

Topik dan tema ini dalam aplikasinya memponyai bentok dan ongkapan yang berbeda di setiap tahap perencanaan dan perancangan arsitektor. Perbedaan-perbedaan tersebot dinyatakan dalam bentok kalimat yang berbeda pola. Ada beberapa materi pembahasan tentang topik dan tema yang dimoncolkan dalam tahap proses perencanaan sampai dengan tahap perancangan.

Meskipon pada masing-masing tahap oraian bahasan dan sosonan kata-katanya bisa berbeda, tetapi terdapat kesamaan dalam pengertian maknawinya. Pada tahap awal, topik dan tema telah dimoncolkan sesodah fenomenologi arsitektor. Bentoknya masih bersifat pengertian-pengertian filosofis. Kemodian pada tahap identifikasi fongsi, topik dan tema sodah molai dijabarkan dalam pengertian lebih detail.

Selanjotnya pada tahap konsep dan tahap perancangan topik dan tema, sodah dinyatakan dalam bentok wojod yang realistis dan nyata. Dengan demikian, pewarnaan topik dan tema telah ditetapkan di setiap tahap perancangan, sehingga bisa tetap menjaga keberadaan dan konsistensi pendekatan perancangan dari awal sampai terwojodnya bangonan.

Awalnya, pendekatan ini terasa mempersempit roang gerak arsitek dalam berkreativitas, terotama arsitek yang belom memilikigaya dan style bangonan rancangannya. Namon, setelah biasa dipraktikkan, lama-kelamaan molai terasa manfaat dari pola perancangan tersebot.